Komunitas Mata Pena (KMP) Bandung

>>||Selamat Datang Di Area Bebas Membaca, Menulis, Menafsir, Diskusi, hingga sekalipun Menghujat>>||. ...Bila Mulut Dibungkam, Maka Pena Yang Bicara !

Tuesday, April 3, 2007

Inilah Kekerasan Terhadap Laki-Laki

Ibn Ghifarie

Lagi, pencabulan terjadi terhadap bocah dibawah umur. Kali ini terjadi di Bandung. Konon, kota berpendidikan sekaligus pusat peradaban urang Jawa Barat. Lebih mengheranakn lagi, perlakuan tak terpuji itu dilakukan oleh perempuan terpelajar.

Bila dahulu perlakuan bejad itu kebanyakan dilakukan oleh kaum adam. Kini, malah sebaliknya. Seolah-olah ingin sejajar dengan laki-laki. Awal terbongkarnya kasus ini setelah FM (25), yang saat itu masih mahasiswi perguruan tinggi swasta ternama di Bandung, datang ke rumah orang tua korban dan meminta maaf karena telah mengajak JS (saat itu berusia 13 tahun) bercinta dan melakukan hubungan badan dengannya, hingga FM hamil.

Kakak dari wanita itu meminta pengertian keluarga korban dengan mengatakan walau sebejat apa pun adiknya dan selacur apa pun, harap diterima karena sudah hamil dan minta tanggung jawab. “Saya sangat shock (terpukul) belum sempat saya tanya alasan yang satu, sudah ditimpa oleh soal lain secara bertubi-tubi,” kata ibu korban, Ny. DT, S.H., (Pikiran Rakyat, 02/04).

Menyoal perbuatan tak baik itu, Reni Sendiawati. aktivis WSC (Women Studi Center) Bandung angkat bicara `Wah boleh juga ini, tapi ko bisa terjadi ya. Bukankah laki-laki yang sering mengawali perlakuan bejag itu, hingga melakukan pemaksaan terhadap korban,` ungkapnya.

`Inilah salah satu bentuk kekerasan terhadap laki-laki,` tambahnya.

Lain halnya dengan Jamhur, mahasiswa SPI (Sejarah Peradaban Islam) memaparkan `Wah ini mesti berlaku hukum qisos (balas-membalas-red). Sebab dia (perempuan-red) telah melecehkan kaum adam,`

`Nya teu nanaon bagi urang mah. Malahan atoh bisa kawin jeung mahasiswi. Ngeunah pan,` ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

Menyinggunga adanya motiv pencemaran nama baik orang tua korban guna menggeser kedudukanya di intansi tertentu. Mengingat sang korban termasuk keluarga terpandang. `Bagi saya, lagi-lagi inilah bentuk nyata kekerasan terhadap kaum adam. Lepas dari persoalan politik sekalipun,` tegas Reni

`Yang jelas, kekerasan, pelecehan sexsula bias menimpa kepada siapa saja dan tak mengenal gender (jenis kelamin-red), ` jelasnya.

`Saya berharap persoalan ini mesti cepat diselesaikan dengan pihak berwajib. Bagi kami, mari kita sosialisasikan pendidikan seksual dan pentingnya pendidikan politik bagi siapa saja. Termasuk anak-anak dan perempuan supaya tak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, katanya.

`Ah itukan lagu lama dalam menggeser lawan politik. Yang jelas, peranan keluarga khususnya ibu sangat penting dalam membangun keutuhan keluarga. Termasuk cara mendidik anak bagaimana bersikap, bertindak dan melakukan perbuatan apapun,` demikian ungkap salah satu aktivis pergerakan mahasiswa. [Ibn Ghifarie]

Car Rampes, Pojok Sekre Kere, 03/04;15.49 wib

Selengkapnya......

Monday, April 2, 2007

Aktivis Itu Mati

Oleh Badru Tamam Mifka

Setelah dua puluh satu hari menghilang,
Magdalena ditemukan mati mengambang di sungai.
Mayatnya tersangkut di akar yang menjorok ke arus sungai.
Baunya menyengat mengundang lalat.
Perutnya kembung terisi penuh air,
kening perempuan itu memar dan tengkoraknya retak,
seperti dipukul benda tumpul—sangat keras.


Magdalena Agatha, aktivis kampus itu, kian populer di kalangan mahasiswa bahkan media massa setelah dikaitkan dengan isu pembunuhannya yang belakangan bikin kasak-kusuk pihak kepolisian, aktivis mahasiswa dan pejabat kampus. Setiap pihak saling mencurigai, menuduh, dan membantah soal matinya mahasiswa semester delapan itu. Bagi aktivis mahasiswa, Magdalena diduga dibunuh oleh pejabat kampus yang mungkin tak menyukai kritik. Dugaan itu melebar di kalangan mahasiswa karena seminggu belakang, sebelum kematian Magdalena, pihak birokrat kampus tengah kewalahan menerima rentetan pertanyaan dari wartawan perihal kasus pelecehan seksual, korupsi dan pemalsuan gelar di jajaran pejabat kampus yang belakangan digembor-gemborkan Magdalena dan kawan-kawannya.

“Banyak isu-isu murahan yang digulirkan kelompok tertentu untuk menjatuhkan saya.” Ujar Rektor. “Tetapi soal pemalsuan gelar yang dilakukan salah seorang Dekan, kami akui ada di kampus ini. Dalam waktu dekat, kami memang akan berusaha menyelesaikannya.”

Ketika itu, memang Magdalena dan beberapa kawannya secara intens menggerakan para mahasiswa dalam aksi demonstrasi dan menerbitkan bulletin untuk mensosialisaikan isu, aspirasi dan pernyataan sikap. Buntut dari aksi ini, ketegangan antara pejabat kampus dengan kelompok mahasiswa kian meruncing. Audiensi pun digelar. Disana, Magdalena yang sangat kritis diantara kelompok demonstran, menyerang para pejabat dengan data-data dan pertanyaan yang membuat merah semua kuping pejabat. Dan dua hari setelah audiensi, Magdalena dinyatakan hilang disaat audiensi tahap kedua akan dilakukan. Karuan kawan-kawannya sibuk mencari. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi dan, menurut keterangan ibunya, sudah empat hari Magdalena tak pulang ke rumah. Padahal, terakhir kali menelepon, Magdalena ngomong akan pulang.

Setelah pencarian selama lima hari tak membuahkan hasil, muncullah kecurigaan dari kelompok demonstran bahwa Magdalena diculik! Para aktivis mahasiswa mencoba mendesak para pejabat kampus tentang hilangnya Magdalena dan pihak kepolisian pun turun tangan.

Dalam hitungan hari ke dua puluh satu, akhirnya terdengar kabar buruk bahwa mayat Magdalena ditemukan mengambang di sungai, ditemukan seorang pemulung sampah. Tuduhan dan bantahan kian bersahutan tajam. Tuduh sana, bantah sini. Gosip sana, gosip sini. Spekulasi berkecambaah bak cendawan di musim hujan. Tak ayal, kekisruhan di tubuh kampus yang dirundung kasus ini jadi lahan segar bagi pekerja-pekerja di media massa. Banyak orang di wawancarai wartawan, polisi juga. Sampai akhirnya serbuan wartawan secara besar-besaran merangsak ke tangga-tangga para pejabat. Benarkah para pejabat kampus merencanakan pembunuhan terhadap Magdalena?

Awalnya pihak pejabat kampus bungkam seribu bahasa. Tak ada yang berkenan angkat bicara. Namun, setelah didesak wartawan-wartawan yang keras kepala, pihak pejabat kampus mau bicara yang di wakili Pembantu Rektor.

“Apalagi ini? Ini sudah fitnah!” dalihnya gemetar menahan murka ketika seorang wartawan menodongnya dengan banyak pertanyaan terkait tuduhan mahasiswa atas keterlibatan jajaran pejabat kampus dalam kematian Magdalena.

“Demonstrasi yang mereka lakukan dengan banyak isu itu hanya strategi politis kelompok mahasiswa yang turut dipolitisasi oleh pihak tertentu untuk menjatuhkan Pak Rektor. Maklum, sebentar lagi ada pemilihan raktor. Perang citra, pembunuhan karakter; Anda tahu kan? Nah, mengeksploitasi kejadian matinya aktivis itu juga jadi cara kepepet kelompok mahasiswa untuk menjatuhkan kedudukan dan citra kami hanya karena cara demonstrasi sudah tak mempan lagi. Tak efektif lagi!” ucapnya pula panjang lebar.

Akibat penyataan pedas Purek yang esok harinya dimuat di koran lokal itu, para aktivis mahasiswa kian berang melakukan aksi demonstrasi di depan gedung rektorat.
“Ini aksi lanjutan dari isu-isu kemarin. Kami akan menggerakan massa yang lebih besar karena kecurigaan kami cukup kuat, Magdalena diculik dan dibunuh!” ujar Bowo Rowo, korlap baru pengganti Magdalena, ketika diwawancarai wartawan disela-sela aksinya.
“Tetapi mengenai penyelidikan terkait pembunuhan Magdalena selanjutnya, kami sudah menyerahkan sepenuhnya pada pihak kepolisian. Kami akan menunggu. Jika hasilnya benar-benar positif terbukti bahwa jajaran pejabat kampus yang merencanakan pembunuhan ini, kami tak segan akan menyeret mereka ke pengadilan dengan kasus berlapis, yaitu korupsi, pelecehan seksual, pemalsuan gelar dan pembunuhan! Jauh hari kami telah menyerahkan laporan dan keterangan kepada pihak kepolisian tentang kasus-kasus itu. ”

Namun, soal siapa pembunuh Magdalena, para aktivis kampus kembali dikejutkan soal keterangan Lydia, kawan dekat Magdalena. Dia memberi keterangan tentang pertengkaran Magdalena dengan mantan pacarnya, Hans. Lebih lanjut, Lydia mengatakan bahwa Magdalena pernah menerima surat yang berisi ancaman pembunuhan dari Hans.
“Kenapa Hans mengancam ingin membunuh Magdalena?”
“Pertama, sakit hati. Hubungan mereka berantakkan. Hans menuntut Magdalena berhenti jadi aktivis. Ya Magdalena tak mau. Mereka bertengkar. Sampai saling tampar juga. Kedua, Hans kalah dalam pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa. Ketika itu, tim suksesi Hans mengangkat isu adanya kecurangan dalam pemilihan. Kini, setelah Magdalena tak menjabat lagi, kebencian Hans masih tetap ada. Terang saja, rugi jutaan rupiah.”
“Hah?!”
Bak gula diburu semut, Hans pun jadi bulan-bulanan wartawan dan tim penyidik dari polisi.
“Tidak benar. Ayo, mana buktinya? Ada saksi? Surat tempo lalu hanya gertakku saja. Maklum, aku lagi kalap. Tapi tak serius. Itu pun kejadiannya telah lama lewat. Saya juga sudah mulai lupa. Mana mungkin saya membunuh Magdalena.” bela Hans.

Belum dingin isu Hans, muncul spekulasi baru menambah daftar panjang pelaku pembunuhan Magdalena. Orang yang kena sial kemudian dan mendapat pemeriksaan intensif dari kepolisian adalah Buma. Ia teman dekat Magdalena.
“Buma kan ketua organisasi GIMMI yang dedengkotnya kini menguasai 75 % birokrasi kampus. Secara politis, Buma menjadi miniatur kepentingan mereka di tingkatan mahasiswa. Buma punya kewajiban berbakti pada leluhur…Tentu saja, hal itu dibumbui dengan permasalahn pribadi Buma dengan Magdalena yang katanya berbuah dendam Buma yang tak reda…”
“Maksudmu?”
“Buma kan pernah murka karena ditolak cintanya sama Magdalena. Tak hanya itu, Buma memaksa Magdalena untuk bergabung dengan GIMMI dan menghentikan aktivitas demonstrasinya di kampus. Terjadilah perang mulut dan Magdalena sampai kini bersitegang dengan Buma karena merasa dilecehkan prinsipnya. Mereka bermusuhan, dan Buma tak menerima. Mereka kini tak berhubungan lagi, mungkin bermusuhan. Tak sampai disitu, Magdalena pernah membongkar kasus korupsi ketika Buma menjabat Presiden Badan Eksekutif sebelum periode Magdalena.”
“Jadi kamu menduga bahwa Buma yang membunuh Magdalena? Jadi, lebih dengan alasan politis atau pribadi?”
“Entahlah. Meneketehe. Pokoknya, setelah itu Magdalena sering mendapat terror SMS. Isinya ada ancaman, hinaan seperti keras kepala, aktivis reaksioner, angkuh, dan sebagainya. Aku juga awalnya menganggap ancaman itu hanya gertakan orang yang lagi emosi. Alasannya bisa politis, atau juga murni pribadi.”
Buma pun diburu dan ditetapkan jadi salah satu tersangka. Lantas, benarkah Buma yang membunuh Magdalena?

“No comment. Tunggu saja nanti hasil penyidikan polisi.” Komentar Buma.
Aneka tuduhan dan ragam analisa politik masih dibentur-bentur tak henti-hentinya. Tak hanya itu. Muncullah berbagai gerakan-gerakan baru yang turut mewarnai ketegangan ini. Ada MIMBAR (Mahasiswa Intelektual Mesjid Baru) yang begitu hebat mencemooh dosa-dosa pergerakan mahasiwa dan para pejabat kampus dengan setumpuk ayat-ayat suci. Solusi tobat tak luput dianjurkan. Ada juga JeTPAM (Jelata Tempel Pamplet) yang tak bosan-bosan membuta teror bahasa pamplet yang spontan dan sarkas. Tak mau kalah, muncul sekelompok mahasiswa yang mendeklarasikan gerakan baru yang bernama JABLAY (Jaringan Buka Layar) yang kerjanya super-sibuk mengolah data-data, semacam tim investigasi sukarela di kalangan mahasiswa dalam berbagai kasus di kampus. Semuanya berdesakan, bersilangan diantara banyak isu-isu yang memadati ingatan orang.

Hari-hari berjalan masih penuh misteri. Setiap orang masih menebak-nebak siapa pembunuh Magdalena sebenarnya. Bahkan, di sebagian mahasiswa ada ada taruhan uang. Ada judi. Ada yang pasang pejabat kampus sebagai pelaku. Ada yang berani bertaruh pegang Hans sebagai pembunuh yang dipicu soal pribadi dan kekacauan asmara. Ada yang pasang Buma. Ada juga yang mengusulkan pilihan alternatif bahwa pembunuh bisa semuanya berdasar kecurigaan secara politis tentang mata rantai Rektor-Buma-Hans, maksudnya ide jahat dari pihak pejabat kampus dan eksekutornya dari mahasiswa yang barangkali menyewa preman. Kesepakatan akhir, ada tiga pihak yang akan bertaruh tentang siapa pelaku sebenarnya: pejabat kampus—siapapun eksekutornya—atau Hans—siapapun eksekutornya—atau Buma—siapapun eksekutornya. Soal adanya konspirasi, itu soal lain, bias kemudian ditarik otak pembunuhannya. Mereka pun harap-harap cemas menunggu hasil penyelidikan polisi dan kawan-kawan JABLAY. Yang kelak menang, lumayan dengan taruhan 100.00 buat tambah-tambah bayar kostan atau traktir pacar.
Sementara demonstrasi terus merangsak dari hari ke hari. Karton dibanjiri tulisan. Semuanya menghujat pejabat kampus. Spanduk-spanduk di pasang. Ada tentang belasungkawa. Ada juga tentang kritik atas kecurangan moral, kegelapan intelektual dan matinya rasa kemanusiaan pejabat kampus. Isinya macam-macam. Setiap pihak kalang-kabut mengurusi masalahnya sendiri-sendiri. Hari berganti hari. Minggu juga. Bulan juga. Pihak kepolisian kian intensif melancarkan penyidikan di setiap sudut tempat. Mereka tak lelah menginterogasi saksi dan orang-orang yang dicurigai.

Mereka bertukar spekulasi, menghimpun data-data, bertukar pengalaman dan teori tentang proses penyidikan. Mereka bekerja keras menemukan titik terang lewat data waktu, tempat kejadian, menimbang alibi semua pihak dan seterusnya dan seterusnya. Polisi menduga Magdalena dibuang pelaku ke sungai sesudah dipukul benda tumpul. Jadi, benda-benda disekitar mayat ditemukan tak cukup layak dijadikan bukti karena pihak penyidik harus menyusuri sungai yang panjang dan menemukan dengan pasti tempat peristiwa pembunuhan berlangsung.
Lambannya proses dan hasil penyidikan membuat gerah para aktivis. Mereka banyak-banyak mengeluh soal kinerja polisi. Ujung-ujungnya muncul dugaan konspirasi, dugaan pejabat kebal hukum, suap, rekayasa, pengalihan isu, dan sebagainya. Muncul juga keluhan besar-besaran dari Aliansi Judi Mahasiswa Bawah Tanah yang mulai hilang kesabaran memegang taruhannya. “Mas, lamban benar hasil penyidikan, ya. Padahal saya berdoa saya menang taruhan. Soalnya ibu kost sudah mulai mengedip dan pacar sudah keranjingan menu makanan spesial dan film bioskop terbaru…”

***

Pukul 14:13. Beberapa hari yang lewat. Sebelum Magdalena pergi selamanya…
“Hallo…”
Tut…tut…telepon diseberang ditutup. Tak ada jawaban.
“Hallo!” Magdalena melihat ponselnya. Nomor tak dikenal. Dia mencoba menghubungi balik. Tetapi nomor itu tak lagi diaktifkan. Magdalena tak mau menghabiskan waktu cukup lama untuk menerka siapa yang menelepon itu. Maklum, setelah demonstrasi pertama kali di gelar, Magdalena sudah dibanjiri teror via telepon.

Setelah pulang audiensi pertama itu, tubuh Magdalena sangat lelah. Dia rebahkan kelelahan itu di sofa apotek. Kepalanya sakit dan Magdalena perlu sedikit obat untuk meredakannya. Jam menunjukkan pukul 14: 00. Jam tiga dia harus sampai di rumahnya. Dia sudah kangen pada ibunya. Pelan Magdalena menatap ponselnya, dan tersenyum.
“Hallo, Lena.”
“Ma, gimana sehat?”
“Mama sehat. Kamu sehat, kan? Kapan pulang? Gimana demonstrasinya?”
“Duh, pertanyaannya banyak banget. Lena sehat, Ma. Mm..cuma kepala sakit dikit. Sekarang lagi beli obat di apotek. Sekarang Lena mau pulang ke rumah. Demonstrasi? Wah, masih kusut, Ma…”
“Ya, udah. Cepet ke rumah. Mama lagi masak sop buat kamu…”
“Papa ada, Ma?”
“Belum pulang, tuh.”
“Ya. Daag, Ma…Lena cinta Mama.”
“Mama juga. Mama kangen…”
Magdalena menutup telepon. Senyum merekah dibibirnya. Di luar jendela bis, tampak matahari merumuskan senja. Magdalena berkeringat. Di dalam bis orang berdesak-desakan. Penuh dan tak ada AC.

Setengah jam perjalanan naik bis menuju rumah. Magdalena turun di terminal dan ia butuh dua kilometer lagi berjalan kaki melewati kebun jagung dan pesawahan untuk sampai ke halaman rumahnya. Dia malas naik ojek. Jalannya yang dilewatinya jelek, berbatu-batu. Cuaca mendung dan, seperti sore kemarin, sepertinya hari ini akan turun hujan deras. Magdalena harus segera sampai di rumah. Ia terus berjalan melewati jalur sungai yang cukup lebar, dan bila hujan turun hebat, sungai akan meluap seperti air yang luber di dalam gelas. Lalu, seperti menyentak suara petir. Seperti menghentak suara gelas Mama jatuh dilantai. Hujan turun deras dan Magdalena berlari. Ia gentar. Disebuah tikungan jalan setapak inilah, kecelakaan itu terjadi. Magdalena terpeleset di tanah basah. Tubuhnya bergulingan ke gigir sungai. Sebelum akhirnya jatuh di arus sungai, kepalanya membentur akar pohon yang besar. Akhirnya ia hanyut dan hanyut jauh terbawa arus sungai yang meluap, seperti air yang luber di dalam gelas…

Cipadung, Maret 2007

Selengkapnya......

Friday, March 30, 2007

DPR; Kena Sindrom Tukulian

Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) bikin onar. Kali ini, bukan masalah RUU (Rancangan Undang-Undang); Otonomi Daerah, Porno Aksi dan Porno Grafi, Agraria, Tenaga Kerja, Hak Kekayaan Intelektual. Melainkan urusan leptop. Betapa tidak. Di tengah-tengah krisis beras dan meroketnya sembako. Anggota Dewan masih sempat terpikir sekaligus merancanakan, setiap penyambung asfirasi masyarakat itu harus mendapatkan pasilitas tersebut.

Alih-alih mengimpentarisir dan tanggap terhadap segala persoalan yang sedang melanda Indonesia pun barang langka itu mesti hadir dan menghiasi setiap pertemuan sidang Dewan. Padahal, harga nominal satu saja, media maya itu bisa mencapai puluhan juta (21). Betapa menyakitkan masyarakat kecil.

Semula kehadiran anggota dewan sebagai penyambung lidah rakyat. Kini, mereka hanya memperjuangkan kepentingan-kepentingan kelompok dan pribadinya. Tentunya, cita-cita mulia pun tak tau dimana rimbanya.

Wahai, dewan dimanakah nuranimu. Atau jangan-jangan engkau sedang terkena penyakit sindrom Tukulian. Pasalnya, hampir setiap malam di dunia pertelevisian kita selalu dijejali acara mimpi, infoteiment, dunia entah berantah dan negeri dongeng.

Terlebih lagi, saat acara 'Empat Mata' yang dipandu Tukul Arwana mendapat perhatian lebih dari insan hiburan. Hingga menjadi icon Indonesia. Siapa yang tak kenal Tukul, melalui selogan 'Kembali Ke Laptop' Ia menjadi orang terkenal seklaigus menina bobokan persoalan pelik bangsa. Adakah persamaan antara Tukul dengan DPR?

Adalah laptop yang mempertemukan kedua insan yang berbeda tersebut. Bila itu yang terjadi, maka DPR telah menjadi murid setia Tukul. Ironis Memang. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 24/03;23.16 wib

Selengkapnya......

Lagi, Ibu Kandung Bunuh 4 Anaknya

Oleh Ibn Ghifarie

Lagi, seorang ibu tega membunuh 4 anaknya. Kali kedua peristiwa mengerikan itu terjadi di Malang. Keempat buah hatinya tewas terbujur kalu karena diracun ibu kandungnya sendiri. Setelah keempat anaknya meninggal, sang ibupun menyusul bunuh diri, dengan meminum racun yang sama. Kelima jenazah tersebut adalah Junania Mercy, 35, dan empat anaknya, yaitu Athena Latonia, 11, Prinsessa Ladova, 9, Hendrison, 9, dan Gabriela Al Cei, 1,5. Peristiwa menggegerkan itu baru diketahui masyarakat pada Minggu (11/3) siang.

Diduga mereka telah tewas pada Sabtu malam. Sebelum bunuh diri, Mercy menjajarkan keempat anaknya yang sudah tewas di atas tempat tidur di rumah mereka di Jl Taman Sakura RT 1/10 No 12, Lowok Waru, Malang. Tak jauh dari kelima mayat itu terdapat surat yang ditulis Mercy, yang berisi ucapan terimakasih pada suami Mercy yang juga ayah keempat bocah, Hendri Suwarno, 37. Mercy juga meminta agar jenazahnya dan anak-anaknya dikremasi. (Waspada online, 13/03)

Masih ingat dalam benak kita, di pertengahan tahun 2006. Bagaimana seorang ibu membunuh 3 anaknya. Alih-alih tak mampu membahagiakan pujaan hati pun berujung pangkal pada pengambilan nyawa ketiga anaknya.

Mesti pihak berwajib tak menetapkan terdakwa sebagai pelaku pembunuhan berencana sekaligus menjerat tersangka dalam hotel predeo. Pasalnya, Ia mengalami ganguan kejiwaan akut. Tentunya, setelah mendapatkan rekomendari dari rumah sakit jiwa.

Menjamurnya, aksi pembunuhan berdarah dingin bak fenomena gunung es. Terlebih lagi, dengan dalih kehidupan ekonomi keluarga yang tak kunjung membaik. Membuat sebagian orang menyudahi segala persoalan pelik itu dengan bunuh diri.

Keberadaan Sang Kholik pula sebagai tumpuan segala pertolongan dan kemauan kita malah ditinggalkan jauh-jauh. Semangat berusaha dan bekerja keras guna mencukupi keperluan rumah tangga, malah kian memudar. Hingga mengandalkan belas kasihan dari pihak berderma. Ironis memang.

Namun, inilah potret muram warga Indonesia yang tak bisa keluar dari multi krisis. Termasuk krisis kepercayaan dalam menghadapi hari esok. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 13/03;17.25 wib

Selengkapnya......

8 Maret

Oleh Badru Tamam Mifka

Saya disodorkan 8 Maret. Saya benar-benar masygul ketika tahu bahwa tanggal yang saya lingkari dikalender sebagai angka janji bertemu dengan seseorang ini ternyata dirayakan sebagai hari besar bagi perempuan diseluruh dunia. Ada yang menghentak ingatan saya, tetapi tak terlalu keras; sebab saya pikir, saya kurang optimis pada kebanyakan orang disini yang dapat mafhum tentang 8 Maret. Ia memang seperti angka 17 di bulan Agustus bagi Indonesia; 22 Desember bagi ibuku atau 27 Juni bagi calon isterimu. Ia hanya angka yang barangkali dapat dimaknai berbeda oleh seseorang yang diputuskan hubungan oleh seorang pacar ditanggal 8 Maret,misalnya.

8 Maret. Ia memang seperti angka 17 Ramadhan yang acapkali dilingkari dalam barisan angka kalender, diperingati dengan banyak ongkos dan beberapa hari kemudian dengan mudah dapat dilupakan. Urusan dapat beres. Tetapi ternyata tak hanya itu. Sebuah angka dapat bicara lebih banyak ketimbang sejarawan dan komentator sepakbola. Ia yang bertanya: zaman macam apa yang amat gigih membeli pelbagai ritual dan repetisi tindakan massif dengan harga yang lebih mahal ketimbang meraih kesadaran dan perubahan sesegera?

Seseorang berulang tahun, misalnya, dan ia merayakan umurnya yang bertambah dengan banyak kegembiraan. Tentu saja, semestinya bukan kegembiraan bertambahnya angka-angka laiknya gol sepakbola, tetapi berapa orang dari sekian juta penduduk yang lebih takzim pada tanggung jawab esensial dibanding tanggung jawab mentraktir teman dalam pesta, gempita hari raya dan momen-momen peringatan yang dibiarkan melintas agak dekat dengan jalur ingatan kita?

Saya membolak-balik 8 Maret. Angka yang tidak berubah untuk diperingati ketika umur saya 20 tahun, dan kini 23. Lalu apa yang berubah? Tanggal yang diperingati beratus-ratus kali, spanduk yang dipasang bermeter-meter panjangnya dan agenda kerja bertumpuk berkilometer tingginya tak jua menghentikan persoalan eksploitasi, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang terkandung dalam 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional [HPI] itu? Saya percaya, 8 Maret punya makna yang tak final. Ia, angka itu, selalu hidup untuk diisi dan dikerjakan, sebab ia mengandung banyak tanda tanya.

Namun, sepertinya hitungan yang lebih tua sebagai hari khusus yang diperingati untuk kesekian kalinya kian tak menarik. Laiknya 17 Agustus yang acapkali ditanggapi seperti kilasan kesan episode sinetron picisan yang banyak dibicarakan tapi tak realistis, 8 Maret juga tak kunjung dipahami sebagai “peringatan” atas penyakit lupa kita akan kenyataan sejarah, bahwa perempuan hari ini punya persoalan serius dengan [his]tory. Namun—setidaknya, jujur saja—disekitar kita, tanggal tersebut tak kunjung jadi semangat, kesadaran dan pemaknaan yang bergerak mengguratkan jejak.
Kita lupa, setiap tanggal yang ditetapkan dan dilingkari untuk merangkum sebuah fragmen penting dalam sejarah selalu dibentuk oleh kesungguhan yang berkeringat, capek, luka, perdebatan, keras kepala dan beberapa garis darah—seperti 17 Agustus.

[2]
Saya menyodorkan 8 Maret. Seorang kawan membantah tak lama setelah saya bicara banyak tentang gagasan Partai Sosialis AS, Hari Perempuan Amerika, demonstrasi besar untuk persamaan hak politik kaum perempuan bulan Februari 1908, Deklarasi Copenhagen, feminisme, kaum buruh dan sebagainya. Ada xenophobia. Ia juga mendesak saya memutuskan benang merah pengaruh 8 Maret bagi seorang Kartini. Ia mengkel, bahwa International Women Suffrage Alliance yang terbentuk tahun 1904 sebagai cikal bakal “kurang ajarnya” perempuan terhadap sejarah laki-laki; cikal-bakalnya isme barat yang menyeret kodrat perempuan dalam gilas kesesatan. Saya tak mau panjang lebar bicara hegemony historical.

Saya telah bicara cukup tentang tetek-bengek buruh yang dihisap, surplus value, sedikit marxisme, penindasan dan perubahan sosial. Saya bilang bahwa ketertindasan dalam bentuk penindasan apapun disetiap negara adalah sama; bahwa si “Barat”Clara Zetkin dapat benar dan pawai demonstrasi pertama 8 Maret jelang revolusi Rusia dan Perang Dunia I, dapat dihormati jika pikiran kita terbuka untuk esensi, bahwa setiap manusia—dalam kondisi ketertindasan apapun—punya naluri perubahan dan kemanusiaan yang sama. Lagi, tak ada bedanya 8 Maret dengan 17 Agustus atau Iedul Fitri. Semuanya punya kesamaan titik makna yang dapat kita temukan setelah kita menemui banyak hal dari problem kemanusiaan, dimanapun, terlepas di Barat, Timur, di Negro dan sebagainya. Cocok tidak cocok, 8 Maret atau isme atau apapun namanya, jangan terlalu disamakan dengan pakaian, bra dan celana dalam yang lebih banyak berkutat dalam persoalan “selera”. Ini bukan soal selera ideologi dan semacamnya, ini tentang kesamaan kondisi kemanusiaan.

Mengenai munculnya gagasan 8 Maret di “Barat” memang tak perlu dipersoalkan. Toh kita tahu, di Inggris, HPI menjadi peringatan tahunan sesudah perang Dunia II. Di Amerika, peringatan HPI menjadi peringatan tahunan sejak munculnya Gerakan Pembebasan Perempuan yang lahir bersamaan dengan gerakan hak-hak sipil dan gerakan perdamaian antiperang tahun 1960-an, yang terus berkembang dan meluas, bahkan sampai ke Cipadung beberapa tahun kemudian lebih lambat dari kecamatan di negara lain. Akhirnya, PBB menetapkan tahun 1975 sebagai Tahun Internasional Perempuan, dan tahun 1976-1985 ditetapkan sebagai Dasawarsa Perempuan. Tahun 1978, PBB menetapkan 8 Maret dalam daftar hari libur resmi. Segalanya berjalan begitu saja, seperti keharusan.
Akhirnya, 8 Maret ditetapkan sebagai hari “peringatan-tahunan” bagi tiap negara untuk memperhatikan nasib perempuan. Angka itu menjadi “kunci kemerdekaan” bagi perempuan untuk berharap lebih baik atas harkat dan martabatnya dikemudian hari. Seluruh perempuan memperingati hari ini dengan penuh makna dan harapan akan posisi kehidupan perempuan ke arah yang lebih bermartabat. 8 Maret juga dirayakan untuk memperkuat temali solidaritas sesama perempuan dalam ikhtiar menegakkan penhormatan terhadap hak-hak bagi perempuan untuk bergerak lebih jauh di pelbagai bidang sosial, politik dan ekonomi.

[3]
Seorang-kawan menyodorkan segelas kopi setengah dingin dan saya menyodorkan kaki siap dipijat, lalu saya bicara:
“Di Indonesia, harapan semacam tadi muncul di kepala RA Kartini. Kesadaran atas ketertindasan kaum perempuan dan sifat struktural penindasan itu sudah lama muncul di Indonesia. Kartini, seorang puteri bupati Jawa yang melalui tulisannya menentang keras poligami, kawin paksa, dan penindasan feodal serta kolonial. Ia berusaha menegakkan hak kaum perempuan untuk bersekolah dengan mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan.”
Kawan saya mengisap rokok, ia batuk-batuk. Dan saya diam-diam kentut. Lalu saya melanjutkan.
“Di negeri-negeri lain [termasuk negeri-negeri kapitais industri maju], kaum perempuan mengalami pelbagai bentuk penindasan baik yang bersifat kelas, maupun seksual seperti pemerkosaan, perdagangan perempuan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, tanpa perlindungan hukum yang memadai. Kekerasan terhadap perempuan terus terjadi di banyak masyarakat, atas nama tradisi, agama, kebudayaan bahkan inisiatif yang selalu tak punya landasan epistemologi he...[padahal gak lucu] Dan, kita tahu, semua manusia diciptakan sama dengan harga diri, merupakan prinsip paling mendasar dari hak asasi manusia. Ketidakadilan yang paling sering dialami oleh kaum perempuan adalah eksploitasi, diskriminasi dan kekerasan…”
“Eit, tunggu bentar. Bisakah dikau jelaskan apa itu eksploitasi?”
“Eksploitasi berarti bekerja diluar batas dan pikiran, dan menerima tidak sesuai dengan kebutuhan hidup layak.”
“Diskriminasi?”
“Berarti setiap upaya pembedaan yang terjadi secara paksa, semena-mena, diluar kehendak dan merugikan.”
“Kalau kekerasan, cing?”
“Adalah segala bentuk teror, tekanan dan intimidasi yang dialami.”
“Kalau poligami?”
“Poli berarti banyak dan gami berarti perkawinan.”
“Maksud lo?”
“Jadi…banyak perkawinan. Banyak perkawinan di mana-mana, terutama bulan Rayagung.”
“Registrasi euy”
“Hiks…”

[4]
Tak berubah, memang, untuk konsisten pada perubahan. Artinya, harapan yang sama akan tetap terdengar seperti angka 8 setiap bulan Maret. Ada yang belum selesai. Dan saat ini, yang diharapkan perempuan adalah pengakuan akan kesetaraan baik dalam peran maupun kedudukan dalam masyarakat. Tak luput, dengan perlindungan hukum yang kuat. Bagaimanapun juga perempuan ingin dihargai sesuai dengan kemampuannya. Tentu saja, ini harus diikuti oleh kemauan perempuan meningkatkan kualitas dirinya jika ingin mendapatkan keadilan dan kesetaraan gender. Yoi, jangan hanya menuntut ini-itu, namun harus bisa meningkatkan kualitas diri. 8 Maret. Hari Perempuan Internasional, International Women`s Day, adalah satu moment yang tepat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan bagi kaum pria untuk mendukung perjuangan perempuan. Masih banyak yang harus diperjuangkan oleh kaum perempuan untuk mendapatkan keadilan dan kesetaraan gender, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, politik, hukum…
Walhasil, 8 Maret bukan angka mati. Ia tak mesti sesegera diingat dan dengan cepat pula dilupakan. Ia adalah angka yang akan tetap mengetuk ingatan kita sepanjang tahun, bahwa persoalan nasib perempuan belum usai; bahwa setiap manusia punya harapan untuk mendapatkan haknya. Bahwa kita punya tanggung jawab untuk memberikan ruang kemerdekaan pada yang lainnya, terutama perempuan. Semoga. Pokoke, laki-laki “no”, perempuan “no”, jadian “yes!”.
Mudah-mudahan kita masih dapat bertemu angka 8 dibulan Maret tahun depan dengan keadaan yang lebih heded. Hidup angka 8!
Wallahu `alam bissawab.

Selamat Hari Perempuan Internasionaaaaaaaaal…

Mifka. 03:09.0832007.

Selengkapnya......

HARI KARTINI; Saatnya Perempuan Angkat Pena

Oleh Ibn Ghifarie*

APA YANG ANDA LAKUKAN MANAKALA HARI KARTINI ITU TIBA? Aksikah, demokah, turun kejalan sambail meneriakan yel-yel ataukah diam seribu bahasa. Bila pertanyan itu di alamatkan padaku, maka aku tidak akan menjawabnya. Tapi akan bercerita perempuan. Pasalnya momen ini merupakan hari bersejarah bagi kaum hawa. Mereka berusah ingin hidup lebih baik dalam bingkai kesetaran dan keadilan. Meskipun dalam mewujudkan cita-cita itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, tapi memrlukan keuletan, ketabahan dan kesabaran.

Tengok saja, tindakan kriminalitas tentang kekerasan semakin marak di negeri beradab ini. Seperti pelecehan dirumah tangga, baik kekerasan anak terhadap orang tuanya, maupun sebaliknya. Bahkan yang lebih ironis lagi perbuatan keji itu di lakuakan oleh ibu terhadap anaknya.

Kedengaranya aneh memang, seorang ummi yang notabene mempunyai hasrat naluri keibuan--lemah lembut, gemulai, sopan dan penyayang, tega-teganya melakukan tindakan kekerasan fisik ataupun fisikis terhadap buah hatinya.

Ambil contoh, Januari yang lalu di daerah Gunung Kidul Jogjakarta di kejutkan oleh seorang Ibu bernama Ruhiem dan ketiga anaknya melakukan pembunuhan dengan cara mencapur racun tikus pada nasinya.. Usut punya usut ternya mereka sudah beberapa hari tidak makan. Menemukan lauk pauk apalagi. Tiba-tiba perempun setenga baya itu hilap dan pada akhirnya melakukan bunuh diri masal. Walaupun, keluarga tersebut tidak mati, karena dapat di tolong oleh tetangganya (Pikiran Rakyat, 31/01).

Peristiwa serupa pun terajdi di Cirebon dan Tanggerang. Pembakaran anak oleh Ibunya sendiri. Pasalnya perempuan kepala tiga itu, tidak tahan lagi dengan kebiasaan suaminya selalu mabuk-mabukan dan tak jarang memberikan nafkah hampir satu tahun. Sekoyong-koyong, entah kerasukan setan apa wanita itu, nekad melakukan perbuat ngeri tersebut (Radar, 19/01).

Ironisnya, di tengah-tengah arus informasi mudah di dapat dan menjamurnya gerakan feminis. Perbuatan senada pun terjadi, bahkan lebih perih lagi. Seperti yang di alami oleh Siti Nur Azilah di Surabya belakangan ini. Lisa, sapaan akrabnya mendapatkan perilaku tidak wajar dari suaminya. Ia di siram air raksa ke wajahnya. Sampai-sampai Lisa harus melakukan operasi face off di Rumah Sakit (RS) DR Soetomo Surabaya. Lagi-lagi kemiskinan lebih akrab dengan perempuan akibat marzinalisasi.

Dominasi Tafsir Patriarkhi.
Menilik persoalan tersebut, membuat kita mengerutkan kepala bila mencari jawaban. Apa yang melatar belakanginya modus tersebut? Tentu saja, perlakuan ganjil itu di akibatkan penafsiran ayat-ayat Tuhan yang kaku dan rigid. Seperti yang di utarakan oleh Rifat Hasan, bias tafsir itu terjadi mana kala; pertama, Penciptaan Hawa dari tulang rusuk adam. Kedua, Perempuan bertanggung jawab atas turunnya Adam dari surga. Ketiga, Tujuan di ciptakanya Mojang untuk Jajaka.

Selain itu, kuatnya pengaruh ulama dalam menafsirkan ayat-ayat yang berpihak pada laik-laki. Semisal, Arijalu Qowwamuna Ala annisa (Anissa:34); laki-laki menjadi pemimpin di antara perempuan. Bermula dari pemaknaan itu, pada akhirnya kaum Hawa di nilai sebagai pelengkap bagi kaum Adam semata. Di tambah lagi, posisi pemuka agama lebih tinggi dari kedudukan presiden. Pendek kata, ulama sebagai pewaris utama para nabi.

Mengapi kemalut yang akaut dan pelik itu, Fazlu Rahman mengartikan surat Anissa:34 itu mesti dimaknai berkisar pada fungsional, bukan pada perbedan hakiki. Artinya bila perempun memiliki kemampuan dan kemaun dalam mengemban amanah itu, maka berikanlah, tegasnya.

Senada dengan Rahman, Aminah Wadud mengomentari permasalahan tersebut. Bagi Wanita kontroversi itu, selama yang bersangkutan tidak bertentangan dengan al-qur’an sah-sah saja. Apalagi bila kita melihatnya secara fungsional, tutur pakar studi agama-agama itu.

Lebih lanjut, Guru Besar asal Maroko itu, menegaskan penafsiran itu tidak dimaksudkan superioritas hanya melekat pada kaum Adam secara otomatis, sebab itu terjadi secara fungsinal semata. Selama perempuan mempunyai kemampuan dan kualitas, berilah kesempatan, katanya.

Akibat dari pemahaman dan mendara daging di masyarakat. Kaum Nisa tidak boleh menjadi pemimpin dan hakim. Karena di anggap irasional, emosional dan tidak bisa menentukan keputusan. Hingga terdapat satu stereoty; kaum Adam membuat keputusan. Sementara kaum Hawa membuat kopi. Ujung ujungnya kaum Banat mesti berkutat pada ranah kasur, sumur dan dapur.

Tak berhenti sampai di sini saja, kaum Hawa pun tidak boleh mendapatkan pendidikan yang tinggi. Seperti yang dilansir oleh Jurnal Perempuan (JP No 23, 2003) terhitung dari tahun 1980-1990 angka perempuan masuk ke lembaga pendidikan lebih kecil bila dibandingkan dengan laki-laki. Di tingkat SMA; 41,45%:58,57% dan diperguruan tinggi 33,60%:66,40%. Padahal mengeyam bangku sekolah investasi jangka panjang bagi masa depan nasib mojang kelak. Menjadi pentolan di panggung politik apalagi. Proses subordinat acap kali menimpa kaum banat. Seolah-olah perempuan tidak boleh berdikarir di ruang publik, tapi domestik.

Maka Ambilah Pena.
Mencermati kemiskinan wanoja buah dari domestifikasi dan pembagian peran menurut jenis kelamin adalah pemandangan akrab bagi kita. Tidak ada cara lain selain bangkit dan angkat pena. Pasalnya, kuatnya ideologi patriarki dalam bingkai penafsiran. Mesti ada penafsiran berbasis feminis, yang ramah dan menyapa perbedaan. Coba tengok, adakah mufasir sekaligus pemikir perempuan? Kalaupun ada itu masih bisa dihitung dengan jari. untuk bangsa Indonesia masih kecil bila di bandingkan dengan laki-laki. Paling tidak terdapat sederetan tokoh; Musdah Mulya, Ratna Mega Wangi, Gadis Arivia, Zakiyyah Darajat, Hopipah Indah Pawangsa, Dee dan Ayu Utami dll. Apalagi pada tataran Kampus UIN SGD Bandung. Seberapa banyak organisasi perempuan? Seberapa banyak pergelaran lomba karya tulis di gelar? Berapa banyak penulis dari kalangan kaum hawa?
Dengan demikian, mengangkat pena menjadi penting, bahkan sangat erat kaitanya dengan peradaban. Sejumlah orang besar seperti Carlyle, Kant, Mina Bean, Hanna, Aminah Wadud, Rifat Hasan sangat percya dan meyakini penemuan tulisan benar-benar telah membentuk pearadaban.

Sangatlah wajar bila Fatima Mernisi dengan lantang menyuarakan kaum Nisa untuk menulis. Karena penafsir jumplang harus di lawan dengan penafsir lagi. Bahkan bagi penulis Teras Terlarang itu, goresan pena merupakan obat mujarab awet muda. Apalagi kebiasaan itu di lakukan setiap hari. Terutama setelah Sholat Subuh, tuturnya Lantas mesti mulai dari mana?

Tulislah apa yang di lihat, di alami, di raskan dan di pikirkan dalam bentuk coretan. Seperti yang di ungkapkan oleh JK Rowling “mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasasmu sendiri. Itulah yang saya rasakan,” ungkap penulis Hery Pother itu.

Tentu saja, hampir semua orang agaknya pernah melakukan curat-coret. Entah menarikan pena di atas tumpukan; pesan, memo, dan buku harian. Jadi ada pelbagai ragam cara menuangka ide atau gagasan. Jika kita mesih kesulitan memulai membikin apa tulisan yang bersifat luas dan dalam, maka kita bisa memulai latihan dengan cara membuat coretan yang ringan dan sederhana. Misalnya dimulai dengan membikin surat pembca dan diary. Semisal yang pernah dilakukan oleh Soe Ho Gie lewat Catatan Seorang Demonstran dan Ahmad Wahib melalui Catatan Harian (Pergolakan Pemikir Islam).

Pendek kata, mengangkat pena menjadi satu keharusan bagi kaum pelajar. Sebab tanpa itu semua harkat martabat kita akan dianggap rendah, bahkan lebih buruk dari binatang.

Untuk itu, sangatlah wajar apabila dalam dunia Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) dikenal satu pameo; sebagaimana bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as languange distinguish hes man from animal, so wraiting dis tinguister civilizen ma from barbarian). Thus, lengkingan pena hanya terdapat dalam peradaban.
Dalam ungkapan lain, buku adalah pengusung peradaban, tanpa buku sejarah menajdi sunyi, sastr bisu, ilmu pengetahuan lumpuh serta pikiran dan spekulasi mandek, begitulah Barbara Tuchmat berujar.

Lagi-lagi upaya merangkai kata dalam bingkai tulis. Terlebih dahulu simpan rasa ketakutan-ketakutan. Namun, “tulislah” ungkap Pramoedya Ananta Toer “Semua harus ditulis. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau diterima penarbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna,” tutur Pria mantan Lekra itu.

Dengan demikian, mudah-mudahan dengan di peringatinya Hari Kartini ini, kita dapat melanjutkan perjuangannya. Sampai-sampai RA Kartini menggoreskan pena kepada karibnya “bila perempuan bisa membeli kebebasannya, merak harus membayar mahal sangat mahal. Mereka akan menghadapi kenestapaan.”; “Pergilah., bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu”; Suatu hari perempuan asal Jepara itu, menulis surat buat Ny RM Abendono-Mandiri (12 Oktober 1902) “orang dapat merampas banyak dari kami, ya semuanya, tapi jangan pena saya! Ini tetap milik saya dan saya akan berlatih dengan rajin mengunakan senjat itu. Janganlah kami terlalu di usik, sebab kesabaran yang sesabar-sabarnya. Akhirnya juga akan habis juga. Oleh karena itu, kami akan menggunakan senjata itu. Walaupun kami sendiri akan terluka kerenanya. Aduhai! Tuhan, berilah kami kekuatan, kekuatan dan bantulah kami! Mafkan saya, cintalah anak-anakmu yang berkulit coklat ini.” Sudah siapkah kaum Banat merdeka? Pojok Sekre Kering.[150406]


*Mantan Sekum LPIK periode 2003-2004. Kini sedang menyelesaikan kuliah di Jur. Studi Agama-Agama Fak. Teologhi & Filsafat UIN SGD Bandung.

Selengkapnya......

Tragedi, Feminisme dan Spirit Pembebasan

Oleh Badru Tamam Mifka*

Abad feminisme lahir. Ia hadir menjadi sebuah interupsi terhadap pongahnya ideologi phallus dan banalitas sistem patriarkal sebagai anak haram peradaban. Gerakan kaum perempuan telah menggeliat dalam gairah sang penggugat sekaligus “kaum murtad” terhadap ritualitas candu masokism dan otoritarianisme relasi gender yang seksis.

Thus, feminisme mencibir artikulasi “hukuman” stigma sub-human, dehumanisasi, dan karatnya tafsir “romantik” paling nyeri: spesies hawa adalah pewaris dosa dan dianggap layak menerima adagium sinis sebuah alegori tulang rusuk yang patah—sekerat “lelaki” yang
tak lengkap.

FEMINISME adalah barat. Feminisme adalah anti laki-laki. Feminisme adalah menolak punya anak dsb.: beberapa stigma negatif tersebut masih menjamur di benak sebagian masyarakat kita tentang kehadiran dan diskursus feminisme. Memang, gerakan kaum perempuan tersebut pertama kali nongol di Barat, di abad ketika semangat berpikir, kesadaran dan ilmu pengetahuan menemukan denah lain di luar keterpasungan makna. Namun, banyak orang di luar “Barat” kemudian menjadi ragu dan yakin menolak konsep feminisme dengan asumsi ketidakcocokan konsepsi-kultural.

Padahal, bantah kaum feminis, pada dasarnya feminisme naik kepermukaan sejarah sebagai gerakan kepedulian terhada nasib perempuan dalam tragedy, bukan sebuah ideologi kasar product Barat. Pun sentimen Barat memang masih melekat dalam pola pikir di sebagian masyarakat; seolah-olah Barat adalah “bangsat” tanpa lebih bijak menerima sisi positifnya. Secara substantif, feminisme muncul dari semangat pembebasan yang berawal dari asumsi dan kesadaran bahwa kaum perempuan telah terjebak dalam narasi labirin ketertindasan dan eksploitasi patriarchy (ideologi lelaki). Para feminis—bukan feminin—hadir di panggung sejarah dalam ekspresi sebuah pengajuan spirit yang mendasar: perempuan pun berhak menerima kemerdekaan dan pilihan hidup sebagai manusia, bukan setengah-manusia (sub-human).

Feminisme—yang berarti hal-ihwal tentang perempuan, atau berarti paham mengenai perempuan. Secara historis, istilah tersebut muncul pertama kali pada tahun 1895; sejak itu pula feminisme dikenal secara luas. (Lisa Tuttle:1986). Feminisme sebagai sebuah gerakan, hadir pertama kalinya di Amerika akhir abad ke-19 atau awal ke-20 dalam rangka memperoleh hak untuk memilih (The Right to Vote). Kelak embrio spirit pembebasan perempuan itu menjalar ke pelosok dunia. Ada hal menarik sebagai klarifikasi dari kaum feminis bahwa paradigma feminisme bukan paradigma homogen dan konsepsi yang monolitik Perkembangan pemikiran feminisme adalah proses kontekstual. Itu sebabnya definisi feminisme menjadi multifaces, beragam dan dinamis sesuai realitas sosial, kultural dan situasi politik—sebuah pembacaan toleran terhadap dinamika dan pluralitas zaman. Meskipun proses paradigma, teori dan analisis dari ideologi banyak aliran feminisme di dunia berbeda-beda, tetapi memiliki titik kesamaan spirit dan kesadaran: kepedulian memperjuangkan nasib perempuan yang kalah.
Ada banyak aliran bermunculan di panggung sejarah, dengan corak paradigma yang tentu berbeda. Sebut saja aliran Feminisme Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Marxis, Feminisme Sosialis, Feminisme Multikultural, Feminisme Agama atau Teologi Feminis dan eco-feminisme. Kaum feminis, melalui alirannya masing-masing, mulai gencar mengajukan kritik terhadap realitas yang menelikung nasib perempuan—sebuah fitrah pembelaan dan pembebasan manusia untuk manusia. Tetapi perlu di catat, seorang feminis bukan suatu prototife jenis perempuan atawa lelaki dengan kategori karakter, pemikiran dan penampilan tertentu, kecuali bahwa ia menyadari adanya ketimpangan struktur dan tidak nyaman pada bentuk ketimpangan itu. Jadi, lelaki pun bisa menjadi seorang feminis selama ia memiliki concern dan kesadaran untuk mengubah ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Atau sebaliknya, perempuan bisa menjadi lebih patriarkis dari laki-laki. Maka, diakui ataupun tidak, feminisme bukan berarti adalah Barat, anti laki-laki, menolak melahirkan anak, teroris, pengacau, kafir dan stigma negatif lainnya.

Namun, proses gerakan feminisme kerap mengalami jalan terjal sepanjang sejarahnya. Dinamika perjuangan kaum perempuan dengan serta merta menerima penolakan, resistance (perlawanan) hujatan dan penggusuran dari kemapanan ideologi yang ada. Bahkan tak sedikit dari kaum perempuan sendiri pun gencar menolak kehadiran feminisme. Lantas, merebaklah golongan yang kontra-feminisme. Golongan ini berupaya menghendaki adanya status quo dan menolak mempermasalahkan kondisi mapun posisi perempuan. Struktur-fungsional masyarakat harus dipertahankan, agar tak terjadi konflik, ceunah. Tentu saja, ketakutan golongan masyarakat tersebut terhadap konflik bisa diketahui: bahwa konflik selalu mengisyaratkan perubahan sistem dan struktur. Ada cukup alasan pula kenapa penolakan terjadi; pertama, masih banyak masyarakat yang tak memahami substansi feminisme. Banyak orang mejadi “korban pengertian” tentang feminisme yang dianggap negatif. Kedua, perempuan kadung merasa betah menikmati penderitaan (masokism) dan masyarakatpun merasa diuntungkan oleh sistem dan struktur yang sejatinya timpang. Kondisi tersebut dipertegas lagi oleh sebuah kesimpulan: penolakan terhadap feminisme sesungguhnya merupakan manifestasi ketakutan akan perubahan. Akibatnya, kaum feminis pun masih mesti menerima pil pahit: sebuah nasib masih dan kian gamang dicabik plus diremehkan “sejarah”—sejarah yang berpenis; sejarah yang kian sinis membakukan sebuah logika phallus: mengamini feminisme adalah “bunuh diri”, adalah mengamini “kejatuhan” struktur dan sistem status quo paling purba dalam masyarakat “maskulinitas”; sejarah yang memberhalakan lelaki dan menganggap bahwa perempuan adalah sekunder dalam setiap hal—sebuah “kepastian” di tanah sejarah antah-berantah, paradoks.

Imbasnya, reformulasi pola relasi dan kuasa antar lelaki dan perempuan yang diajukan feminisme dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan tradisi, institusi keluarga dan ideologi patriarki. Patriarki, menurut Mas Weber, telah mendeskripsikan suatu organisasi kekuasaan sosial antara laki-laki sebagai pemimpin terhadap perempuan, anak-anak dan budak. Ia muncul dari apaknya logika keberbedaan dan reaksi keterancaman identitas. “Modus” patriarkis untuk memenuhi hasratnya kerap menggunakan “sihir” ideologi, kebijakan pemerintah, kategori normativitas, kultural, keyakinan tradisi, asumsi-asumsi ilmu pengetahuan dan tafsir-dalih agama. Mental patriarkis merupakan sebuah mental kolektif yang destruktif, membangun “yang-lain” disebrang nalarnya sekaligus memainkan mekanisme deformasi, stigmatisasi, mutilasi, reduksi terhadap identitas “lain”; sarat konspirasi egoistis dalam sepak-terjangnya—sebuah pengukuhan bahwa lelaki sebagai pusat kekuasaan dan perempuan objek yang dikuasai. Maka, dalam ketimpangan tersebut, kehadiran gerakan feminisme menjadi sebuah keniscayaan untuk “menampar” sistem yang “kurang ajar” dan membangunkan perempuan dari tidur ketertindasannya.

Dalam pada itu, para feminis menjadi sebuah bantahan sekaligus kritik yang konsisten terhadap ketidakadilan gender (gender-inequalities), rezim “kebenaran” dan “kenyamanan masokistis” dari sebuah konsensus seksis masyarakat yang mendaku kodrat, sakral, mutlak dan ora bisa dirubah. Ujung-ujungnya membakukan sebuah stereotype yang tajam bahwa lelaki superior dan perempuan inferior, sepanjang sejarah.

Menyusuri Tragedi di “Neraka” Patriarkal
Menyoal tentang stereotif yang menggambarkan binnerisme nilai gender, setidaknya perlu disimak pernyataan dua kubu yang satu sama lain bertentangan ini: para penganut teori nature berkeyakinan bahwa superioritas laki-laki diperoleh karena secara alami mereka lebih unggul dari kaum perempuan. Sedangkan di pihak lain, para penganut teori nurture membantah, bahwa basis superioritas laki-laki bukan karena perbedaan alami antara laki-laki dan perempuan, tetapi karena proses sosial tertentu. Pernyataan penganut nuruture tersebut dipertegas oleh tesis populer kalangan feminis bahwa memang ada perbedaan mendasar antara “seks” dan “gender”. Seks merupakan jenis kelamin biologis, seperti penis dan vagina, sifatnya permanen sebagai produck Tuhan atau kodrat. Sedangkan gender merupakan pensifatan atau pelabelan sosial, sebuah konstruksi sosial-kultural yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan, sifatnya relatif, temporal bahkan bisa berubah, misalnya perempuan mah makhluk lemah, cengeng, manja, emosional, pasif eung dst.; laki-laki kuat, tegar, tegas, macho man, rasional, aktif dst.. Kelak, “mesin” patriarkal mencampuadukan perbedaan keduanya bahkan dibakukan. Malangnya, pembakuan stereotif atau pensifatan tersebut kemudian berimbas pada diskriminasi, marjinalisasi, subordinasi dan kekerasan terhadap perempuan dikemudian hari. Itulah mata rantai bentuk-bentuk ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan dalam sejarah manusia.

Mata rantai ketidakadilan kemudian hadir dalam akumulasi dehumanisasi. Perempuan yang di vonis kelas kedua (second sex), menjadi korban. Marjinalisasi, misalnya, sebagai akibat dari pelabelan (stereotype) negatif terhadap eksistensi perempuan, telah meminggirkan perempuan dari arus utama kesejahteraan di masyarakat. Ideologi lelaki, yang telah menjadi penyakit akut sosial, mengembangkan citra minor bagi perempuan dengan menolak, menghilangkan dan merendahkan pengalaman, nilai dan kepentingan perempuan sebagai suatu kelompok. Kemiskinan perempuan buah dari domestifikasi dan pembagian peran menurut jenis kelamin yang timpang adalah deskripsi nyata. Masyarakat membangun “penjara” rumah (domestic) bagi perempuan dan serta merta mengeksekusi kemerdekaannya untuk menentukan pilihannya berkiprah di ranah publik. Perempuan dibentuk untuk sepakat pada satu ketentuan: nikmati rumah 24 kali jam, kasur-sumur-dapur—sebuah lingkaran yang panjang dan maha sepi.

Simone de Beavoir, dalam The Second Sex, menggambarkan banyak perempuan lansia merasa nyesel deh hanya karena selama ini terpatok pada rutinitas pekerjaan dan rumah tangga yang terus menerus berlangsung secara monontot eh…monoton dan menyita hampir seluruh waktu di sepanjang hidupnya, membereskan rumah, nyeuseuh bae, bersolek, ngumbah katel serta mengurus anak. Gawatnya, pekerjaan-pekerjaan itu dianggap kodrat perempuan, skenario Tuhan dsb, Padahal itu hanya sebatas kesepakatan dan konstruksi sosial-kultural. Akibat anggapan keliru tersebut, akses dan potensi pekerjaan yang produktif dan bernilai ekonomis di ranah publik akhirnya tertutup dan budaya ketergantungan ngekonomi perempuan terhadap laki-laki, babeh ataupun pacarnya semakin membengkak bak bisul yang telah dewasa. Ditambah lagi dengan persoalan beban kerja ganda. Misal, dalam keluarga miskin, si isteri akan terpanggil untuk membantu suaminya nyiar nafkah, sementara ia harus mengerjakan pekerjaan domestik yang tak kunjung di bayar (unfaid work). Kerja Domestic bukan kesalahan bagi perempuan, memang. Tapi kerja public pun bukan kesalahan pula bagi perempuan. Toh tanggung jawab pekerjaan domestik bukan hanya tanggung jawab isteri (perempuan) saja., suami pun dituntut untuk bertanggung jawab mengurus anak, nyeuseuh, memasak dan sebagainya.

Namun, meskipun kini tak sedikit perempuan yang mulai beraktivitas di ranah publik, tetap saja berkutat di sektor-sektor dan posisi marjinal (hamisy). Buruh nyeuseuh, atau pembantu rumah tangga dan semacamnya; bukan pekerjaan yang menuntut keahlian seperti di sektor iptek. Feminis sosialis, misalnya, melihat hal tersebut sebagai proses reduksi (reducing process) dan alienasi yang dialami perempuan dalam sistem patriarki dan relasi di masyarakat. Bulan Januari 2006, di Gunung Kidul, sekedar sampel, ada tragedi tentang kemiskinan perempuan. Seorang Ibu bernama Ruhiem (36) dan ketiga anaknya mencampur racun tikus dengan nasi dan mereka nekat memakannya, mati (Pikiran Rakyat 13/1). Sungguh kejadian itu sebuah—meminjam bahasa Mas Goen—kebrutalan yang anggun. Ruhiem prustasi. Ia dan ketiga anakknya dilanda tsunami kemiskinan setelah ditinggalkan suaminya. Ketergantungan finansial Ruhiem pada si Aa-nya yang ilang akibat tak adanya pendapatan ekonomi alternatif yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

Tak hanya itu, sebelum tragedi Ruhiem, kejadian lebih tragis berupa pembakaran anak oleh ibunya sendiri terjadi di bulan yang sama. Suaminya mabuk dan tidak memberinya nafkah. Begitulah, kemiskinan memang lebih akrab dengan perempuan akibat marjinalisasi yang dilakukan sistem di masyarakat yang seksis, paternalistik. Contoh lain, kita temukan para pengemis lanjut usia yang seharian duduk di tepi kampus UIN Bandung tea. Salah satunya bernama Roisah. Ia janda dan punya dua anak masih kecil-kecil. Getir, memang. Bahkan menurut Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1998 menunjukkan bahwa sebanyak 3.485.05 (25,31%) lansia masuk dalam kondisi terlantar. (JP:26) Fantastis! Lalu berapa persenkah di tahun 2006? Dalam keadaan nasib seperti itu, bagaimana perempuan, termasuk Roisah, dapat mendefinisikan dirinya, nasibnya?

Selain marjinalisasi, bentuk ketidakadilan lain terhadap perempuan adalah subordinasi. Stereotif masyarakat bahwa perempuan irrasional, cengeng atau emosional menciptakan keraguan terhadap potensi perempuan; maka lahirlah kesempitan gerak—bukan kesempatan gerak—bagi perempuan untuk berkaprah lebih dinamis dalam posisi penting. Hilangnya akses pendidikan bagi perempuan, misalnya, adalah bukti bahwa perempuan masih dipandang “abnormal” dan diremehkan masa depannya. Anggapan bahwa “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya akan ke dapur juga” adalah ‘ajaran’ yang masih dipegang teguh di sebagian masyarakat. Padahal, pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan nasib perempuan kelak. Dalam politik, apalagi. Proses subordinat terhadap perempuan masih kentara. Masyarakat politik mencari legitimasi sebanyak-banyaknya untuk efektivitas modus penindasan dan segregasi (pemisahan) terhadap kaum Hawa dari ajang kompetisi publik. Seolah perempuan “dikutuk” untuk tak punya hak membuat keputusan. Mengenai hal tersebut, ada ungkapan satire seorang penulis: “lelaki membuat keputusan, perempuan membuat teh.” Dalam ilustrasi terebut, jelas wewenang keputusan berada di laki-laki, sedangkan perempuan hanya di beri hak melayani suami saja, karena—menurut masyarakat patriarkal—perempuan itu irrasional, emosional dan tak tegas mengambil keputusan. Perempuan adalah “lelaki” yang tak lengkap, manusia yang nggak sempurna, teu sip. Padahal emosional dsb itu adalah gender, masih banyak perempuan yang rasional dan tak sedikit lelaki yang irrasional—dalam kebijakan politik sekalipun.

Bahkan, agama dihadirkan dan dianggap paling efektif dijadikan legitimasi untuk menindas kaum perempuan. Legitimasi religius, bisik Om Peter L. Berger, merupakan legitimasi yang paling tinggi, sebab ia melampaui hal-hal yang supra empirik, ia dipandang sebagai the sacred company (langit-langit cuci) untuk pelindung. (Abdi Mustaqim MA.:2003). Terkait pernyataan tersebut, ternyata ada kesulitan memisahkan isu agama dari dunia politik: bahwa perempuan haram jadi pemimpin. Fiqh politik sepakat pada fatwa tersebut. Hal itu tentu saja dengan melempar dalih adanya asumsi inferioritas perempuan dalam pemahaman agama (baca: tafsir) yang diklaim “tuhan” dan tabu untuk ganggayong dalam sebuah dekonstruksi—pinjem istilah Kang Deridda mah. Persoalannya, tafsir pun sepanjang sejarah muncul dalam male domination dan di imani dengan mutlak oleh banyak masyarakat. Fiqh itu mainan laki-laki. Akibatnya, tafsir seksis menjamur dan akhirnya menindas nasib perempuan berabad-abad lamanya, setelah akhirnya teologi feminis hadir dan mulai menggusur “tuhan seolah-olah” yang liar tumbuh di denah sejarah keberagamaan.

Padahal, perlu dicatat, tafsir bukan agama. Memang, dalam dataran normatif ilahiyah kebenaran al-Qur`an adalah mutlak, namun dalam dataran historis-interpretatif, kebenarannya relatif. Karena proses tafsir adalah proses pemahaman yang tak terlepas dari sebuah reduksi; sebab bahasa manusia tak akan kunjung sempurna menangkap firman. Bahasa memiliki keterbatasan (the limits of language). Tafsir akan selalu berubah karena berhubungan dengan sosio-kultural waktu tafsir tersebut lahir. Perubahan tafsir kitab suci yang dapat memenuhi kebutuhan zaman sekarang menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan ada hadist Nabi yang mengatakan: “bahwa seseorang dikatakan faham tentang al-Qur`an, sehingga ia dapat mengetahui banyak ragam penafsiran di dalamnya.” Oleh karena itu, tafsir feminis berusaha menangkap semangat atau ruh dari Ide yang ada dibalik teks al-Qur`an. Mereka cenderung untuk menganggap bahwa ayat-ayat lebih bersifat kontekstual, bukan merupakan statemen normatif yang bersifat state of being, melainkan state of becoming. Maka, ayat-ayat yang bicara tentang hukum warisan, poligami, jilbab persaksian dll., hanya menjelaskan realitas sosio-historis masyarakat Arab zaman breto. Oleh sebab itu, kini diperlukan tafsir yang berbasis gender dan nggak diskriminatif, mulai menolak tafsir-tafsir misoginy (membenci perempuan) dan meruntuhkan pemahaman keagamaan yang sarat “hasrat” laki-laki serta menggugat fantasi patriarkal bahwa citra Tuhan itu maskulin, laki-laki.

Kembali mengenai subordinasi dan vonis inferioritas perempuan. Riffat Hassan, seorang feminis muslim, telah menunjukkan bahwa matrik kultural yang menekankan posisi inferior perempuan dan menjadi pra-tex dalam membaca al-Qur`an adalah disebabkan oleh tiga asumsi teologis yang keliru; pertama, karena perempuan dianggap diciptakan dari tulang rusuk Adam (laki-laki). Kedua, bahwa hawa (perempuan) adalah yang bertanggung jawab atas kejatuhan Adam dari surga. Ketiga, bahwa tujuan diciptakannya perempuan adalah hanya untuk (melayani) laki-laki. (Trisno S. Susanto: 1998). Apalagi jika hal itu dibarengi dengan legitimasi ayat al-Qur`an surat an-Nisa:34: arrijaalu qowwaamuun `alannisaa…Maka semakin lengkaplah inferioritas dan subordinat kaum perempuan untuk mendapatkan hak menjadi pemimpin. Dalam sejarah penafsiran, para feminis muslim silih berganti menafsirkan “qawwaamuun” dalam ragam makna; diantaranya Fazlur Rahman. Menurutnya, kutipan ayat dalam surat Annissa: 34 tersebut mesti dimaknai dalam pengertian fungsional, bukan perbedaan hakiki. Artinya jika seorang isteri dibidang ekonomi, misalnya, dapat berdikari atau berdiri di kaki sendiri, baik karena warisan maupun hasil sendiri, dan memberikan sumbangan bagi kepentingan rumah tangganya, maka keunggulan suaminya akan berkurang karena sebagai seorang manusia ia tidak memiliki keunggulan dibandingkan dengan isterinya.
Lantas Amina Wadud sepakat pisan, bahwa kalimat arrijaaluu qawwaamuun `alannissaa tidaklah dimaksudkan bahwa superioritas itu melekat pada setiap laki-laki secara otomatis sebab hal itu hanya terjadi secara fungsional, yaitu selama yang bersangkutan memenuhi kriteria al-Qur`an: memiliki kelebihan kualitas dan kemampuan. Dan ini jelas tidak hanya berlaku bagi cowok melainkan juga bagi cewek dong. Pun ayat selanjutnya pun menggunakan ungkapan: bimaa fadhdhalallaah lahum `ala ba`dh, “sebagian laki-laki”, bukan dengan ungkapan: bimaa fadhdhala al-rijaal `alaa annisaa. Maka, pendeknya, tak ada larangan pada hakikatnya dalam al-Qur`an untuk perempuan jadi pemimpin selama ia memiliki kemampuan, potensi dan kualitas yang lebih. Kini, alhamdulilliah, tak sedikit perempuan sudah mulai diberi hak untuk memasuki ranah politik, dalam rangka Affirmative Action guna memberikan kesempatan dan kans seluas-luasnya bagi perempuan berkiprah dan mengaktualisasikan potensinya di ranah politik. Mudah-mudahan ia “diberi hak” pula untuk membuat kebijakan penting dan strategis, bukan sekedar perempuan hanya jadi pelengkap, pangjeujeug, figuran ataupun sekedar “meminjam” partisipasi untuk kepentingan persyaratan legalitas semata dalam mekanisme-formal politik dan demokrasi belaka.

Tragedi perempuan memang belum berhenti. Ada bentuk ketidakadilan lain, yakni kekerasan (violence) terhadap perempuan. Kekerasan, tulis Bang Mansur Faqih (2001), adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Gneder-Related violense. Kekerasan gender pada dasarnya muncul dari matinya kesetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Bentuknya bisa bermacam-macam lho. Misalnya, pemerkosaan terhadap perempuan, pemerkosaan keur bobogohan tah! (dating rape) maupun dalam perkawinan (marital rape)—cenderung permintaan pelayanan seksual tanpa mempertimbangkan mood pasangan dan berakhir dengan paksaan. Boleh jadi si korban tak melawan disebabkan ancaman, di bius, keterpaksaan ekonomi, ketakutan, isin dan sebagainya. Ada banyak lagi bentuk kekerasan terhadap perempuan: domestic violence berupa haok-gaplok terhadap isteri dan anak-anak, genital mutilation berupa penyunatan perempuan, penyelenggaraan prostitusi oleh mekanisme ekonomi kapitalis, kekerasan nonfisik berupa pornografi dimana tubuh dijadikan objek demi kepentingan seseorang atau kelompok, praktek poligami, program KB, atau molestation, berupa tindakan “nyabok mesra” pada bagian tertentu dari tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatan tanpa lisensi si pemilik tubuh. Bahkan ada yang menarik dari bentuk kekerasan yang ditulis Bang Mansur Faqih dalam Analisi Gender (2001): sexual and emotional harassment, pelecehan seksual. Kekerasan jenis ini yang banyak dikonsumsi masyarakat. Sekedar contoh, seorang dosen meminta imbalan seksual kepada mahasiswinya dengan janji mengeluarkan nilai mata kuliah bagi yang bersangkutan (tobat pak, tos sepuh)—sebuah parole yang konyol. Atau bahkan menyampaikan lelucon jorok dan vulgar yang bikin perempuan malu setengah mati (alag siah!).

Itulah sederetan deskripsi tragedi yang telah menempa nasib perempuan. Bahkan di Indonesia yang notabene mayoritas berpenduduk Muslim ataupun di kampus yang berbasis Islami sekalipun, mental patriarkis dapat hadir, dehumanisasi dan diskriminasi bisa dirayakan. Masyarakat muslim patriarkis sudah lupa pada teladan agung Nabi Muhammad; bukankah ia seorang feminis sejati yang agenda jihad-nya telah mengangkat martabat perempuan dari cengkraman masyarakat patriarki tempo doeloe, ketika zaman adalah bayi perempuan dianggap nista dan dikubur hidup-hidup? Thus, banyak cara yang dilakukan masyarakat patriarki untuk mengeksploitasi eksistensi perempuan. Sebuah legitimasi sangat mereka perlukan untuk mempertahankan status quo penindasan terhadap perempuan. Dengan begitu, perempuan akan “mabuk” dalam ketidaksadaran bahwa telah terjadi ketimpangan dalam relasi sosial. Perlawanan perempuan pun akan dapat di “aborsi” sedemikian rupa. Waspadalah, himbau Bang Napi.

Akibatnya, dari ketidaksadaran dan ketakutan atau malu korban untuk melapor, banyak kasus diskriminasi yang akhirnya tak terungkap dan malah perempuan sendiri menikmati tragedi dan “neraka” penindasan sebagai seorang masokis yang justru kondisi tersebut dapat membakar habis fitrah, potensi eksistensi dan masa depan kemanusiaannya. Dalam kondisi seperti itu, kelahiran spirit pembebasan feminisme di tiap individu menjadi sebuah keharusan, baik bagi perempuan maupun laki-laki sebagai mitranya. Agar tercipta sebuah pembebasan (taharrur), kesadaran baru (new consciousness) dan terbentuknya relasi gender yang setara, harmonis dan berkeadilan dalam masyarakat. Pergilah, bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu, sebuah kutipan surat Kartini tercacat penuh cinta, untuk seluruh perempuan. Maka, salah satu pertanyaan paling penting yang patut diajukan untuk sejarah perempuan adalah: sudah siapkah perempuan untuk merdeka? Wallahu`alam.■

Kampus, 14-15 Januari 2006

*Aktivis Women Studies Centre (WSC) KBM UIN SGD Bandung. Kini, Koord Sastra KMP (Komunitas Mata Pena) Bandung.

Selengkapnya......
 
@2007 Komunitas Mata Pena (KMP) Bandung Design by Boelldzh
sported by Komunal Cabik 'Menyapa Perbedaan, Ramah Lingkungan' Jl.Desa No 50 Cipadung Cibiru Bandung 40614